Senin, 10 September 2012

Membangun Rasa Percaya Diri


Masa Remaja adalah masa yang tidak bisa di lupakan, karenanya buat kamu para remaja jangan sia-siakan masa remajamu dengan hal-hal  yang tidak berguna.
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh / tumbuh menjadi dewasa.

Ciri-ciri percaya diri :
1. Percaya akan kemampuan diri sendiri, sehingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan atau pun rasa hormat orang lain.
2. Tidak terdorong untuk menujukan sikap menyesuaikan diri demi diterima oleh orang lain / kelompok.
3. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain, serta berani menjadi diri sendiri.
4. Percaya pengendalian diri yang baik (emosinya stabil).
5. Memiliki internal locus of control.
6. Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi di luar dirinya.
7. Memiliki harapan realistis terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya.

Ciri-ciri kurang percaya diri:
1. Berusaha menunjukan sikap konformis.
2. Menyimpan rasa takut / khawatir terhadap penolakan.
3. Sulit menerima realita diri.
4. Selalu menempatkan dirinya di tempat yang terakhir.
5. Mudah menyerah pada nasib.

Sembilan bahan membangun rasa pede:
- Kenali dirimu,
- Ekspresikan dirimu,
- Berikan energi positif pada dirimu,
- Bergaul dan bersosialisasi,
- Tetapkan tujuan,
- Berani menerima tangung jawab,
- Berani mengambil resiko,
- Miliki teladan,
- Selalu yakinkan diri.

Kiat untuk mengatasi krisis percaya diri:
1. Peka dan jujur terhadap perubahan diri,
2. Menemukan aspek yang mengalami krisis pede,
3. Menelusuri penyebab krisis,
4. Bertekad melakukan pemulihan,
5. Membangun semangat baru,
6. Menetapkan target baru yang lbh realistik,
7. Berkonsultasi dengan pihak yang berkompeten.

Sekolah Wajib Terapkan Pendidikan Karakter


       Sekolah di Palangka Raya wajib menerapkan program pendidikan karakter mulai tahun ajaran 2012. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Ikwanuddin mengatakan, diwajibkannya program ini karena diterapkannya pendidikan karakter di setiap sekolah, diharapkan dapat mencegah meningkatnya perilaku kenakalan remaja di kalangan pelajar.
"Pendidikan karakter itu bertujuan menjadikan generasi siswa yang unggul dan tangguh serta mempunyai daya saing, dengan memberi pelatihan budi pekerti dan keagamaan yang baik kepada siswa," kata Ikwanuddin, Jumat (21/10/2011).
Ia mengatakan, penyusunan kurikulum dalam rangka pendidikan karakter kewirausahaan dan ekonomi kreatif dengan pendekatan belajar aktif pada satuan pendidikan rintisan, sudah dilakukan pada bulan Juli lalu di Palangka Raya.
"Saat ini sudah ada delapan sekolah percontohan pelaksanaan program pendidikan karakter. Sekolah-sekolah tersebut adalah TK Pembina, SDN 4 Menteng, SDN Percobaan, SLBN 1, SMP 2, SMA 2, SMK 3 dan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM)," katanya.
Sebelum menerapkan pendidikan karakter, kata Ikwanuddin, para guru sebaiknya memberikan contoh yang baik sehingga apa yang dilakukan tidak sia-sia.
"Mulai sekarang kita harus memberi contoh terlebih dulu kepada mereka agar pendidikan karakter yang diterapkan pada anak menjadi lebih mudah. Kami menilai, program pendidikan karakter sangat tepat diterapkan di sekolah sebagai penyaring arus globalisasi dan kemajuan teknologi," ujarnya.      Oleh sebab itu, lanjut Ikwanuddin, guru harus dapat memberikan materi saat sebelum mengajar dan menyisipkan pendidikan karakter dan budi pekerti, adat istiadat, budaya daerah dan sopan santun yang merupakan keunggulan untuk diajarkan di sekolah.

Sumber:

Model/Gaya Belajar


         Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan, bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini, guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan kondisi mereka yang akan menerima pemberian agar pemberian tersebut dapat bermanfaat secara optimal, dan tidak sebaliknya.
Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas membahas tentang berbagai cara dan gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik di kelas maupun dalam kehidupan mereka sehari-hari terkait dengan interaksi mereka dengan sesama teman atau orang yang lebih tua. Dengan memahami model-model belajar ini, diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.
Berbagai model belajar yang dibahas, adalah (1) gaya/cara belajar alami sesuai dengan cara kerja otak (peta pikiran), (2) gaya/cara belajar dengan memaksimalkan kerja dua belahan otak (kecerdasan ganda), (3) gaya/cara belajar metacognitif, (4) gaya/cara belajar empatik dan komunikatif, (5)

1. Peta Pikiran
Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati, membaca, atau mendengar tentang sesuatu hal  berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep, kata kunci), tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Sebagai contoh, kalau saya menyebutkan kata (konsep) Bajuri, maka sangat mungkin dalam pikiran Anda akan terkait dengan kata lain secara fungsional, seperti gemuk, supir bajaj, kocak, sederhana, atau ke tokoh lain Oneng, Emak, Ucup, Hindun, dan lain-lain dengan masing-masing karakternya (Hal ini terjadi karena Anda mengaitkan kata Bajuri dengan ceritera sinetron Bajaj Bajuri). Demikian pula bila dalam pikiran kita terlintas kata Universitas Indonesia, atau Universitas Negeri Jakarta, maka akan terkait alamatnya, pejabatnya, dosen-dosen dan staf administrasi, warna jaket alama maternya dan sebagainya. Silakan Anda mencoba menuliskan / menggambarkan  peta pikiran tentang Bajuri dan UI atau UNJ sebagaimana tersebut di atas. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi, meskipun dengan makna yang tidak berbeda.
Dalam bidang studi keahlian anda, misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika, Akuntansi, Agama, atau yang lainnya. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (conceptual map).
Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran, yang produknya berupa peta konsep. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif  yang merupakan peta konsep, sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas, kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran, mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif, di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Mengingat hal itu, sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep, guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif.
Selanjutnya, Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal, setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri, misalnya berangan-angan, menonton, mengobrol atau bercanda tanpa makna. Bagaimana dengan anda?.


2. Kecerdasan Ganda
Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak, sebagai instrumen kecerdasan, terbagi dua yaitu kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) di antara dua kutub, yaitu kebosanan  bila beban dan kadar tuntutan pemikiran tergolong rendah dan kutub kecemasan bila terjadi tuntutan berfikir tinggi atau banyak. Bila terjadi kebosanan maka otak secara otomatis akan mengisinya dengan aktivitas lain,  jika aktivitas tersebut positif maka hal itu akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitas negatif, misal lamunan jorok, inilah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir.
Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi maka akan terjadi kecemasan-kelelahan. Kondisi ini akan dapat dinetralisir  dengan relaksasi melalui penciptaan suasana  kondusif, misalnya keramahan, kelembutan, senyum-tertawa, suasana nyaman dan menyenangkan, atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. Oleh karena itu, suasana belajar perlu diupayakan atau diciptakan agar kondisinya nyaman, ramah, menyenangkan. Hal ini diperlukan agar proses belajar berjalan efektif dan efisien. Suasana belajar seperti ini yang dikenal dengan istilah PAIKEM, singkatan dari Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.
Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, abstrak, dan simbolik. Sedangkan sel syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistic, emosional, kesadaran diri, spasial, musik, dan kreatif. Penting untuk diketahui bahwa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%, sisanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya.
Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya multiple atau jamak, yang terdiri dari delapan kecerdasan. Agar mudah mengingat delapan kecerdasan tersebut dirangkum dalam satu akronim Slim n Bil,  yaitu:
  1. Spacial - visual,
  2. Linguistic - verbal,
  3. Interpersonal - communication,
  4. Musical - rithmic,
  5. Natural,
  6. Body - kinestic,
  7. Intrapersonal - reflective,
  8. Logic thinking - reasoning.
Uraian tersebut menjelaskan bahwa siswa menjalani kegiatan belajar dengan melibatkan (seharusnya) dua belahan otak sebagai pusat kecerdasan, yaitu belahan otak kiri dan belahan kanan. Namun sayangnya belahan otak kiri lebih dominan dibandingkan dengan otak kanan, oleh karena itu, guru/pendidik perlu menciptkan kondisi agar siswa dapat memberdayakan belahan otak kanan dengan gaya mengajar PAIKEM. Di samping itu, gaya belajar siswa bervariasi sesuai dengan bakat atau dominasi jenis kecerdasan yang dimilikinya, apakah spacial-visual (pandang ruang), linguistic – verbal, musical dan seterusnya. Dengan kata lain, ada siswa yang lebih mengandalkan kemampuan pandang ruangnya (tekun membaca, dan mengamati) dan ada siswa yang lebih senang belajar sambil berbicara verbal, mempresentasikan materi, dan juga juga siswa yang senang belajar sambil mendengarkan musik atau suara-suara yang membuatnya nyaman. Dengan demikian, guru/pendidikan diharapkan dapat memvariasikan gaya mengajarnya sedemikian rupa agar para siswanya (yang beraneka ragam gaya belajarnya) dapat menerima materi ajar dengan maksimal.

3.Metakognitif
Secara harfiah, metakognitif  bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir, berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya,  yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu.
Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan, tergantung dari variabel meta kognitif, yaitu kondisi individu, kompleksitas, pengetahuan, pengalaman, manfaat, dan strategi berpikir. Holler, dkk. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu, monitoring, dan regulasi.
Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7, yaitu:
  1. refleksi kognitif,
  2. strategi,
  3. prediksi,
  4. koneksi,
  5. pertanyaan,
  6. bantuan, dan
  7. aplikasi.

Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif, yaitu:
  1. kesadaran,
  2. monitoring, dan
  3. regulasi.

Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsur analisis, sintesis, dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini, tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal.

4. Komunikasi
Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa, siswa dengan fasilitas belajar, ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya, ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.
Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992), untuk kita simak dan renungkan,  bahwa seorang anak yang masih polos-natural, setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 komentar positif dari orang yang lebih tua dalam kehidupannya. Akibatnya sungguh mengejutkan, anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan, keberanian, suka tantangan, ingin mencoba, ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang  lebih dominant dari orang sekelilingnya, ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun, sehingga dia tumbuh menjadi penakut, pemalu, ragu-ragu, menghindar, membiarkan, dan cemas. Dampak selanjutnya pada waktu bersekolah, belajar menjadi  beban dan rasa percaya dirinya berkurang. Makin lama ia makin dewasa, pribadinya berpola negative, seperti pesimis, mudah menyerah, dikendalikan keadaan , prasangka, pembenaran, menimpakan kesalahan, dan sibuk dengan alasan. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif, yaitu optimis, mengendalikan keadaan, ada kebebasan memilih, punya alternative, partisipatidf, dan mau memperbaiki diri.
Sebagai guru, tentunya akan berhadapan dengan siswa yang memiliki masalah yang kurang mendukung proses belajar seperti diuraikan di atas. Bagaimanakah menghadapi siswa yang memiliki latar belakang kondisi psiko-emosional seperti irtu? Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru/pendidik adalah antara lain membangun pola komunikasi yang kondusif. Dalam hal ini sebaiknya guru mengutamakan tumbuh-kembangnya citra diri positif dalam diri kepribadian siswa sehingga mereka akan mampu mengembangkan rasa percaya diri. Untuk maksud tersebut, guru dituntut untuk bersikap mengajak dan bukan memerintah. Wujud kongkrit dari pola komunikasi seperti ini dapat ditampakkan pada aspek komunikasi non verbal (eksprsi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok panutan).

5.
Belajar Wholistic VAK
Dalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Agar bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi). Dengan kata lain, belajar harus melibatkan tiga aktivitas inderawi kita, yaitu (a) Visual berupa kegiatan membaca, mengamati, melihat, (b) Auditory berupa kegiatan mendengar, dan (c) Kinesthetic, berupa kegiatan melakukan gerak tangan, mulut/pengucapan, kaki sehingga terjadi suatu gerakan kinestetik. Ketiga aktivitas indera tersebut disingkat VAK, yaitu Visual, Auditory dan Kinesthetic.
Dalam bahasa Sunda ada pepatah Pok-Pek-Prak yang berarti bahwa belajar mempunyai indikator (1) Berkata (Pok) yang mencakup aktivitas bertanya, menjawab, berdiskusi, presentasi, (2) Mengamati (Pek) suatu kejadian atau peristiwa yang sedang berlangsung agar kita dapat melakukan aktivitas, antara lain menyelidiki, mengidentifikasi, menduga, menyimpulkan, dan menemukan, (3) Melaksanakan (Prak) yang meliputi aktivitas mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan, mengembangkan. Lebih jauh, pepatah Pok-Pek-Prak tersebut dapat kita kaitkan dengan aktivitas spiritualitas kita tetapi perlu dimodifikasi tata urutannya, menjadi Pok-Prak-Pek. Dalam hal ini, maksud saya, bila kita sedang menghadapi masalah (apapun bentuknya) maka kita seharusnya Pok, yaitu ‘ngomong’ dan minta kepada Tuhan (dalam bentuk doa) agar kita dapat mengatasi masalah tersebut. Lalu selanjutnya Prak, yaitu melakukan sesuatu dan kemudian Pek, yaitu lihat dan amati apa yang terjadi. Tiga kata tersebut, katakan atau doa (Pak), lakukan sesuatu (Prak), kemudian lihat dan amati apa yang terjadi adalah kata-kata kunci yang sering kita dengar dari Pak Mario Teguh dalam acara Mario Teguh, the Golden Ways (MTGW).
Sejalan dengan hal tersebut, Vernon A Madnesen (1983) dan Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana kita melakukan aktivitas tersebut dalam hal belajar. Jika belajar hanya dengan :
  1. membaca efektivitas hasilnya hanya mencapai 10%,
  2. mendengar 20%,
  3. melihat 30%,
  4. mendengar dan melihat 50%,
  5. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %, dan
  6. belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan bisa mencapai 90%.
Dari uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal, tidak cukup dengan mendengar dan melihat, tetapi harus dengan :
  1. hands-on,
  2. minds-on,
  3. konstruksivis, dan
  4. daily life (kontekstual).

6. Konstruksivisme
Dalam paradigma pembelajaran, guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk :
  1. mengidentifikasi,
  2. mengeksplorasi,
  3. berhipotesis,
  4. berkonjektur,
  5. generalisasi, dan
  6. inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan.
Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara guru-siswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan), melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi.
Dalam kaitan ini, tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran, yaitu
  1. ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya),
  2. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk),
  3. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengawal dan mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri).
Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya, tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang mengemasnya. Mungkin saja kemasannya tidak akurat, siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda, atau mungkin terjadi kesalahan, di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. Kesalahan siswa merupakan bagian dari belajar, jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar, ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran.
Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme, karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan.
Agar konstruktivisme dapat terlaksana secara optimal, Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism), yaitu:
  1. konsistensi internal,
  2. keterpaduan,
  3. kekonvergenan,
  4. refeleksi-eksplanasi,
  5. kontinuitas historical,
  6. simbolisasi,
  7. koherensi,
  8. indak lanjut,
  9. justifikasi, dan
  10. sintaks (SOP).

7. Prinsip Belajar Aktif
Ada dua jenis belajar, yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif).
Belajar secara aktif indikatornya adalah :
belajar pada setiap situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan partisipatif dalam setiap kegiatan.
Sedangkan belajar reaktif indikatornya adalah
tidak dapat melihat adanya kesempatan belajar, mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan.
Dari indikator belajar aktif, sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas, maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebagai subjek, belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang, seperti kemampuan sosialisasi, empati dan pengendalian diri. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok, diskusi, presentasi, tanya-jawab, sehingga terpupuk rasa tanggung jawab dan disiplin diri.
Prinsip belajar yang dikemukakan oleh Treffers (1991) adalah memiliki indikator
  1. mechanistic (latihan, mengerjakan) ,
  2. structuralistic (terstrutur, sistematik, aksionmatik) ,
  3. empiristic (pengalaman induktif - deduktif) , dan
  4. realistic - human activity (aktivitas kehidupan nyata).
Prinsip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan:
  1. intelektual - emosional,
  2. kontekstual - realistik,
  3. konstruksivis - inkuiri,
  4. melakukan - mengkomunikasikan, dan
  5. inklusif life skill.

Oleh : Dr. MUCHLAS SUSENO, M.Pd.