Uraian berikut ini adalah untuk menjawab
pertanyaan, bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini, guru (kita)
bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. Bukankah
pemberian harus diselaraskan dengan kondisi mereka yang akan menerima pemberian
agar pemberian tersebut dapat bermanfaat secara optimal, dan tidak sebaliknya.
Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas membahas tentang berbagai cara dan gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik di kelas maupun dalam kehidupan mereka sehari-hari terkait dengan interaksi mereka dengan sesama teman atau orang yang lebih tua. Dengan memahami model-model belajar ini, diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.
Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas membahas tentang berbagai cara dan gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik di kelas maupun dalam kehidupan mereka sehari-hari terkait dengan interaksi mereka dengan sesama teman atau orang yang lebih tua. Dengan memahami model-model belajar ini, diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.
Berbagai model belajar yang dibahas, adalah (1) gaya/cara belajar alami
sesuai dengan cara kerja otak (peta pikiran), (2) gaya/cara belajar dengan
memaksimalkan kerja dua belahan otak (kecerdasan
ganda), (3) gaya/cara belajar metacognitif, (4) gaya/cara belajar empatik dan
komunikatif, (5)
1. Peta Pikiran
Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi
melalui mengamati, membaca, atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk
hubungan fungsional antar bagian (konsep, kata kunci), tidak parsial terpisah
satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Sebagai
contoh, kalau saya menyebutkan kata (konsep) Bajuri, maka sangat mungkin dalam
pikiran Anda akan terkait dengan kata lain secara fungsional, seperti gemuk,
supir bajaj, kocak, sederhana, atau ke tokoh lain Oneng, Emak, Ucup, Hindun,
dan lain-lain dengan masing-masing karakternya (Hal ini terjadi karena Anda
mengaitkan kata Bajuri dengan ceritera sinetron Bajaj Bajuri). Demikian pula bila
dalam pikiran kita terlintas kata Universitas Indonesia, atau Universitas
Negeri Jakarta, maka akan terkait alamatnya, pejabatnya, dosen-dosen dan staf
administrasi, warna jaket alama maternya dan sebagainya. Silakan Anda mencoba
menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan UI atau UNJ
sebagaimana tersebut di atas. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan
redaksi, meskipun dengan makna yang tidak berbeda.
Dalam bidang studi
keahlian anda, misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika,
Akuntansi, Agama, atau yang lainnya. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran
yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Tulisan atau gambar peta
pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (conceptual map).
Selanjutnya Buzan
mengemukakan bahwa cara belajar siswa
yang alami (natural) adalah sesuai
dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran, yang produknya berupa
peta konsep. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat
catatan kreatif yang merupakan peta konsep, sehingga setiap konsep utama
yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan
fungsionalnya jelas, kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing.
Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran, mudah diingat
dan dikembangkan pada konsep lainnya. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap
tidak akan efektif, di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa
penulis. Mengingat hal itu, sajian guru dalam pembelajaran harus pula
dikondisikan berupa sajian peta konsep, guru membumbuinya dengan narasi yang
kreatif.
Selanjutnya, Buzan mengemukakan
bahwa kemampuan otak manusia dapat
memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. Dengan
kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat
tinggi. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal, setiap kesempatan dapat
dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Hanya sayang banyak
orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat
untuk peningkatan kualitas diri, misalnya berangan-angan, menonton, mengobrol
atau bercanda tanpa makna. Bagaimana dengan anda?.
2. Kecerdasan Ganda
Goldman (2005)
mengemukakan bahwa struktur otak, sebagai instrumen kecerdasan, terbagi dua yaitu
kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan.
Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow)
di antara dua kutub, yaitu kebosanan bila beban dan kadar tuntutan
pemikiran tergolong rendah dan kutub kecemasan bila terjadi tuntutan berfikir
tinggi atau banyak. Bila terjadi kebosanan maka otak secara otomatis akan mengisinya
dengan aktivitas lain, jika aktivitas
tersebut positif maka hal itu akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika
diisi dengan aktivitas negatif, misal lamunan jorok, inilah yang disebut dengan
sia-sia atau mubadzir.
Sebaliknya jika tuntutan
kerja otak tinggi maka akan terjadi kecemasan-kelelahan. Kondisi ini akan dapat
dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif,
misalnya keramahan, kelembutan, senyum-tertawa, suasana nyaman dan
menyenangkan, atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang
Pencipta. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan
aktivitas otak kanan. Oleh karena itu, suasana belajar perlu diupayakan atau
diciptakan agar kondisinya nyaman, ramah, menyenangkan. Hal ini diperlukan agar
proses belajar berjalan efektif dan efisien. Suasana belajar seperti ini yang
dikenal dengan istilah PAIKEM, singkatan dari Pembelajaran Aktif, Interaktif,
Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.
Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat
kecerdasan yang sifatnya logis,
sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, abstrak, dan simbolik.
Sedangkan sel syaraf otak kanan
berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistic, emosional,
kesadaran diri, spasial, musik, dan kreatif. Penting untuk diketahui bahwa
kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20%
sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%, sisanya sebanyak 40% dipengaruhi
oleh hal lainnya.
Gardner (1983) mengemukakan tentang
kecerdasan ganda yang sifatnya multiple
atau jamak, yang terdiri dari delapan kecerdasan. Agar mudah mengingat delapan
kecerdasan tersebut dirangkum dalam satu akronim Slim n Bil, yaitu:
- Spacial - visual,
- Linguistic - verbal,
- Interpersonal - communication,
- Musical - rithmic,
- Natural,
- Body - kinestic,
- Intrapersonal - reflective,
- Logic thinking - reasoning.
Uraian tersebut
menjelaskan bahwa siswa menjalani kegiatan belajar dengan melibatkan
(seharusnya) dua belahan otak sebagai pusat kecerdasan, yaitu belahan otak kiri
dan belahan kanan. Namun sayangnya belahan otak kiri lebih dominan dibandingkan
dengan otak kanan, oleh karena itu, guru/pendidik perlu menciptkan kondisi agar
siswa dapat memberdayakan belahan otak kanan dengan gaya mengajar PAIKEM. Di
samping itu, gaya belajar siswa bervariasi sesuai dengan bakat atau dominasi
jenis kecerdasan yang dimilikinya, apakah spacial-visual (pandang ruang),
linguistic – verbal, musical dan seterusnya. Dengan kata lain, ada siswa yang
lebih mengandalkan kemampuan pandang ruangnya (tekun membaca, dan mengamati)
dan ada siswa yang lebih senang belajar sambil berbicara verbal,
mempresentasikan materi, dan juga juga siswa yang senang belajar sambil
mendengarkan musik atau suara-suara yang membuatnya nyaman. Dengan demikian,
guru/pendidikan diharapkan dapat memvariasikan gaya mengajarnya sedemikian rupa
agar para siswanya (yang beraneka ragam gaya belajarnya) dapat menerima materi
ajar dengan maksimal.
3.Metakognitif
Secara harfiah,
metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir, berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana
proses berpikirnya, yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa
yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran
terdahulu.
Sharples & Mathew
(1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk
menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. Kemampuan
metakognitif setiap individu akan berlainan, tergantung dari variabel meta
kognitif, yaitu kondisi individu, kompleksitas, pengetahuan, pengalaman,
manfaat, dan strategi berpikir. Holler, dkk. (2002) mengemukakan bahwa
aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu, monitoring, dan
regulasi.
Komponen meta kognitif
menurut Sharples & Mathew ada 7, yaitu:
- refleksi kognitif,
- strategi,
- prediksi,
- koneksi,
- pertanyaan,
- bantuan, dan
- aplikasi.
Sedangkan Holler
berpendapat tentang komponen metakognitif, yaitu:
- kesadaran,
- monitoring, dan
- regulasi.
Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsur
analisis, sintesis, dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan
inkuiri dan kreativitas. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran
semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini, tidak
hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal.
4. Komunikasi
Siswa dalam belajar
tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa, siswa dengan fasilitas belajar,
ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi
proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya, ada
individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.
Perhatikan hasil
penelitian Jack Canfield (1992),
untuk kita simak dan renungkan, bahwa seorang anak yang masih
polos-natural, setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 komentar
positif dari orang yang lebih tua dalam kehidupannya. Akibatnya sungguh
mengejutkan, anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan, keberanian,
suka tantangan, ingin mencoba, ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif
yang lebih dominant dari orang sekelilingnya, ternyata lama kelamaan
keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun, sehingga dia tumbuh
menjadi penakut, pemalu, ragu-ragu, menghindar, membiarkan, dan cemas. Dampak
selanjutnya pada waktu bersekolah, belajar menjadi beban dan rasa percaya
dirinya berkurang. Makin lama ia makin dewasa, pribadinya berpola negative,
seperti pesimis, mudah menyerah, dikendalikan keadaan , prasangka, pembenaran,
menimpakan kesalahan, dan sibuk dengan alasan. Berbeda dengan individu yang
memiliki pribadi positif, yaitu optimis, mengendalikan keadaan, ada kebebasan
memilih, punya alternative, partisipatidf, dan mau memperbaiki diri.
Sebagai guru, tentunya
akan berhadapan dengan siswa yang memiliki masalah yang kurang mendukung proses
belajar seperti diuraikan di atas. Bagaimanakah menghadapi siswa yang memiliki
latar belakang kondisi psiko-emosional seperti irtu? Salah satu cara yang dapat
ditempuh oleh guru/pendidik adalah antara lain membangun pola komunikasi yang
kondusif. Dalam hal ini sebaiknya guru mengutamakan tumbuh-kembangnya
citra diri positif dalam diri kepribadian siswa sehingga mereka akan mampu
mengembangkan rasa percaya diri. Untuk maksud tersebut, guru dituntut untuk bersikap
mengajak dan bukan memerintah. Wujud kongkrit dari pola komunikasi seperti ini dapat
ditampakkan pada aspek komunikasi non verbal (eksprsi wajah, nada suara, gerak
tubuh, dan sosok panutan).
5. Belajar Wholistic VAK
Dalam belajar apapun,
belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Agar bermakna, belajar
tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan
aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan,
mengkomunikasikan, presentasi, diskusi). Dengan kata lain, belajar harus
melibatkan tiga aktivitas inderawi kita, yaitu (a) Visual berupa kegiatan
membaca, mengamati, melihat, (b) Auditory berupa kegiatan mendengar,
dan (c) Kinesthetic, berupa kegiatan melakukan gerak tangan,
mulut/pengucapan, kaki sehingga terjadi suatu gerakan kinestetik. Ketiga
aktivitas indera tersebut disingkat VAK, yaitu Visual, Auditory dan
Kinesthetic.
Dalam bahasa Sunda ada
pepatah “Pok-Pek-Prak” yang berarti bahwa belajar mempunyai indikator (1)
Berkata (Pok) yang mencakup aktivitas bertanya, menjawab, berdiskusi, presentasi,
(2) Mengamati (Pek) suatu kejadian atau peristiwa yang sedang berlangsung agar
kita dapat melakukan aktivitas, antara lain menyelidiki, mengidentifikasi,
menduga, menyimpulkan, dan menemukan, (3) Melaksanakan (Prak) yang meliputi
aktivitas mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan, mengembangkan. Lebih
jauh, pepatah Pok-Pek-Prak tersebut dapat kita kaitkan dengan aktivitas
spiritualitas kita tetapi perlu dimodifikasi tata urutannya, menjadi Pok-Prak-Pek.
Dalam hal ini, maksud saya, bila kita sedang menghadapi masalah (apapun
bentuknya) maka kita seharusnya Pok, yaitu ‘ngomong’ dan minta kepada Tuhan
(dalam bentuk doa) agar kita dapat mengatasi masalah tersebut. Lalu selanjutnya
Prak, yaitu melakukan sesuatu dan kemudian Pek, yaitu lihat dan amati apa yang
terjadi. Tiga kata tersebut, katakan atau doa (Pak), lakukan sesuatu (Prak),
kemudian lihat dan amati apa yang terjadi adalah kata-kata kunci yang sering
kita dengar dari Pak Mario Teguh dalam acara Mario Teguh, the Golden Ways (MTGW).
Sejalan dengan hal tersebut, Vernon A Madnesen (1983) dan Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa
kebermaknaan belajar tergantung bagaimana kita melakukan aktivitas tersebut
dalam hal belajar. Jika belajar hanya dengan :
- membaca efektivitas hasilnya hanya mencapai 10%,
- mendengar 20%,
- melihat 30%,
- mendengar dan melihat 50%,
- mengatakan-komunikasi mencapai 70 %, dan
- belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan bisa mencapai 90%.
Dari
uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan
aktivitas siswa secara optimal, tidak cukup dengan mendengar dan melihat, tetapi harus dengan :
- hands-on,
- minds-on,
- konstruksivis, dan
- daily life (kontekstual).
6. Konstruksivisme
Dalam paradigma
pembelajaran, guru menyajikan persoalan
dan mendorong (encourage) siswa
untuk :
- mengidentifikasi,
- mengeksplorasi,
- berhipotesis,
- berkonjektur,
- generalisasi, dan
- inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan.
Sehingga jenis komunikasi
yang dilakukan antara guru-siswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga
menimbulkan imposisi (pembebanan), melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga
tumbuh suasana fasilitasi.
Dalam kaitan ini, tokoh
pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro
(1908) mengemukakan tiga prinsip
pembelajaran, yaitu
- ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya),
- ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk),
- tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengawal dan mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri).
Dalam kondisi tersebut
suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa
mengkonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan
yang lebih baik. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang
dipelajarinya, tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Siswa tidak lagi menerima
paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa
sendiri yang mengemasnya. Mungkin saja kemasannya tidak akurat, siswa yang
satu dengan siswa lainnya berbeda, atau mungkin terjadi kesalahan, di sinilah
tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan
pembimbing. Kesalahan siswa merupakan bagian dari belajar, jadi harus dihargai
karena hal itu cirinya ia sedang belajar, ikut partisipasi dan tidak menghindar
dari aktivitas pembelajaran.
Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme,
karena pembelajaran adalah aktivitas
siswa yang sifatnya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan.
Agar konstruktivisme
dapat terlaksana secara optimal, Confrey
(1990) menyarankan konstruksivisme
secara utuh (powerfull constructivism), yaitu:
- konsistensi internal,
- keterpaduan,
- kekonvergenan,
- refeleksi-eksplanasi,
- kontinuitas historical,
- simbolisasi,
- koherensi,
- indak lanjut,
- justifikasi, dan
- sintaks (SOP).
7. Prinsip Belajar Aktif
Ada dua jenis belajar,
yaitu belajar secara aktif dan
secara reaktif (pasif).
Belajar secara aktif indikatornya adalah :
belajar pada setiap
situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan
partisipatif dalam setiap kegiatan.
Sedangkan belajar reaktif indikatornya adalah
tidak dapat melihat adanya kesempatan belajar,
mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan.
Dari indikator belajar
aktif, sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas, maka prinsip
belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebagai subjek, belajar dengan
melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang,
seperti kemampuan sosialisasi, empati dan pengendalian diri. Hal ini bisa terlatih
melalui kerja individual-kelompok, diskusi, presentasi, tanya-jawab, sehingga
terpupuk rasa tanggung jawab dan disiplin diri.
Prinsip belajar yang dikemukakan
oleh Treffers (1991)
adalah memiliki indikator
- mechanistic (latihan, mengerjakan) ,
- structuralistic (terstrutur, sistematik, aksionmatik) ,
- empiristic (pengalaman induktif - deduktif) , dan
- realistic - human activity (aktivitas kehidupan nyata).
Prinsip
tersebut akan terwujud dengan
melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan:
- intelektual - emosional,
- kontekstual - realistik,
- konstruksivis - inkuiri,
- melakukan - mengkomunikasikan, dan
- inklusif life skill.
Oleh : Dr. MUCHLAS SUSENO, M.Pd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar