Minggu, 30 September 2012

Mewujudkan Pend. Karakter yg Berkualitas


Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya. Bicara mengenai pengukuran artinya harus ada alat ukurnya, kalo alat ukur pendidikan matematika jelas, kasih soal ujian jika nilainya diatas strandard kelulusan artinya dia bisa. Nah, bagaimana dengan pendidikan karakter?
Jika diberi soal mengenai pendidikan karakter maka soal tersebut tidak benar-benar mengukur keadaan sebenarnya. Misalnya, jika anda bertemu orang yang tersesat ditengah jalan dan tidak memiliki uang untuk melanjutkan perjalananya apa yang anda lakukan? Untuk hasil nilai ujian yang baik maka jawabannya adalah menolong orang tersebut, entah memberikan uang ataupun mengantarnya ke tujuannya. Pertanyaan saya, apabila hal ini benar-benar terjadi apakah akan terjadi seperti teorinya? Seperti jawaban ujian? Lalu apa alat ukur pendidikan karakter? Observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku yang dikehendaki. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu, tentunya siswa tersebut tidak tahu saat dia sedang di observasi. Nah, kita dapat menentukan indikator jika dia memiliki perilaku yang baik saat guru menjelaskan, anggaplah mendengarkan dengan seksama, tidak ribut dan adanya catatan yang lengkap. Mudah bukan? Dan ini harus dibandingkan dengan beberapa situasi, bukan hanya didalam kelas saja. Ada banyak cara untuk mengukur hal ini, gunakan kreativitas anda serta kerendahan hati untuk belajar lebih maksimal agar pengukuran ini lebih sempurna.

Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Annie Sullivan (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904) “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.
Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.

Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.
Ingin mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas? Maka kuncinya sudah dipaparkan diatas, ada alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki, adanya tiga komponen penting (guru, keluarga dan masyarakat) dalam upaya merelaisasikan pendidikan karakter berlangsung secara nyata bukan hanya wacana saja tanpa aksi. Ingat, Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut di berikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.

By  :  Timothy Wibowo

Senin, 17 September 2012

Peringatan Hari Anak Sedunia






FORUM Anak Komunitas Kota Ambon  memperingati Hari Anak sedunia dengan mengkampanyekan gerakan anti kekerasan seksual terhadap anak pada 20 November 2010. Direktur Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN) Maluku Bai Hadjar Tualeka mengatakan, selain aksi kampanye anti kekerasan juga akan digelar dialog antara anak dari Forum Anak Komunitas Kota Ambon dengan anggota Komisi B DPRD Maluku.
Dengan harapan agar pemerintah mendengar pendapat anak dan segera membuat regulasi untuk Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan anak di Maluku untuk mendukung penerapan Undang-Undang (UU) No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Kampanye itu akan kami lakukan dengan berjalan kaki dari jalan Ot. Pattimaepau hingga kawasan Gong Perdamaian Dunia sekitar pukul 09.00 WIT. Kampanye ini untuk memberikan pesan kepada orang dewasa agar tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun, terutama pelecehan seksual. Dialog itu akan dilangsungkan di aula Kanwil Hukum dan HAM Maluku sesudah kampanye," kata Tualeka.
Kegiatan yang sama juga akan digelar di Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah dan Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat.***

(dari berbagai sumber)

Langkah Awal Dalam Pendidikan Karakter



Komitmen merupakan langkah awal jika ingin memiliki karakter yang baik, tetapi komitmen seperti apa yang dibutuhkan untuk mensukseskan pendidikan karakter? Yaitu disiplin terhadap pendidikan karakter itu sendiri. Kali ini kita akan membahas dari sudut pandang sekolah.
Suatu ketika saya sempat mempresentasikan tentang pendidikan karakter dan dampaknya terhadap guru dan karyawan sekolah. Saya dan rekan sengaja menyeting agar lingkungan sekolah menjadi padu dengan isu pendidikan karakter yang akan didengungkan oleh sekolah yang bersangkutan. Saat saya menjelaskan tentang peraturan sekolah dan peraturan kelas, terlihat muka yang kurang nyaman, serta respon yang kurang antusias, serta air muka yang seakan berbeban berat menyikapi pelaksanaan pendidikan karakter.
Dan ditengah-tengah acara saya menjelaskan agar sekolah tidak perlu terburu-buru melakukan perombakan besar dalam aturan sekolah. Saya sangat memahami beban guru dalam mengajar dan kegiatan administrasinya, lakukan step by step yang penting ada komitmen dalam pelaksanaannya dan peliharalah disiplin sebagai motor penggerak pendidikan karakter itu sendiri, itu kuncinya. Disiplin, disiplin dan disiplin.

Sekilas saya jelaskan disiplin orang yang hidup di Indonesia dengan dua musim, berbeda dengan negara yang hidup dengan empat musim. Ketangguhan, daya juang dan inisiatif juga berbeda. Kita di Indonesia adalah wilayah yang tantangan secara alamnya cukup sedikit dibandingkan dengan mereka yang hidup di empat musim. Karena salah satu faktor inilah kita perlu belajar disiplin lebih lagi untuk kehidupan yang lebih baik. Disiplin sangat erat dengan kesuksesan, bahkan disiplin ada dalam satu paket dengan kesuksesan. Apapun yang hendak dicapai dalam kesuksesan itu disiplin adalah dasarnya. Bahkan ukuran disiplin sudah diformulasikan secara rinci oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outlier, bahwa butuh 10.000 jam kedisiplinan untuk menjadi master dalam bidang apapun. Penyanyi, atlet, profesional di bidang bisnis yang sukses telah melewati proses 10.000 jam. Dan anda tahu siapa saja yang telah menjadi master di bidangnya bukan? Sebut saja, Ruth sahayana, Taufik hidayat, Agnes Monica, Purwacaraka, Juna, Rifat Sungkar, Chairul Tanjung, Hermawan Kertajaya dan masih banyak sekali tokoh yang bisa disebut master di bidangnya masing-masing.
Pendidikan karakter cenderung tak akan pernah tersentuh secara nyata jika ada hanya sebatas proses pemahaman tentang karakter atau hanya bersifat informasi tanpa adanya tindakan. Dewasa ini di media cetak, elektronik dan media internet banyak memberitakan tentang kasus jual beli kunci ujian, contek mencontek, plagiatisme, bahkan kasus kriminal yang dilakukan oleh pelajar, itu semua menunjukan bahwa nilai realisasi karakter bangsa tidak terwujud nyata. Fenomena ini muncul akibat rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
Faktor yang mempengaruhi antara lain :
  1. Rendahnya sarana fisik
  2. Rendahnya kualitas guru
  3. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan
  4. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan
  5. Visi dan moralitas pendidik serta anak didik yang rendah
  6. Mahalnya biaya pendidikan Memang menjadi masalah serius di negeri ini
Anggaran pendidikan yang sudah tinggi tidak menjamin sarana fisik yang baik dan biaya pendidikan yang terjangkau, penyebabnya jelas moralitas masyarakat yang mementingkan golongan, kepetingan pribadi dan mendapat keadaan yang tepat.

Keenam halangan ini hanya bisa hilang jika nilai luhur dan pendidikan karakter benar-benar terealisasikan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal berkaitan dengan permasalah diatas kiranya diperlukan suatu terobosan di dunia pendidikan untuk menciptakan generasi muda yang berkarakter dan berprestas tinggi. Untuk mencapai itu diperlukan inovasi dan pengembangan nilai disiplin serta komitmen dari setiap perangkat sekolah agar pendidikan karakter bisa terus berjalan. Dampak dari pendidikan karakter dapat membangun individu untuk mengenali dirinya sendiri dan mampu menetapkan tujuan pendidikannya.
Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada sejak dulu seperti apa yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara melalui Among Metode, dimana ada tiga unsur pendidikan yang harus berjalan sinergis yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan Among Metode diharapkan anak akan tumbuh sesuai kodrat (naturelijke groei) dan keadaan budaya sendiri (cultuur histories). Sehingga ada tiga hal yang patut dan perlu untuk dikembangkan dalam rangka membangun karakter yang berpendidikan yaitu membangun budaya agar siswa selalu siap dengan perubahan yang semakin kompetitif mengingat budaya itu bersifat kontinue, konvergen dan konsentris (Ki Hajar Dewantara). Perhatikan kata-kata Ki Hajar Dewantara berikut “membangun budaya agar siswa selalu siap dengan perubahan yang semakin kompetitif” artinya diperlukan sikap yang berkomitmen dan disiplin terhadap pelaksanaan pendidikan karakter itu sendiri, dan semua ini dapat dimulai dari kita semua. Sudahkan anda berkomitmen terhadap hal ini?
Sebagai informasi tambahan, kami memberikan E-book Gratis 6 Cara Mendisiplinkan Anak yang dapat anda pelajari agar kita semua dapat memaksimalkan pendidikan karakter di negara kita dan ikut menciptakan kehidupan yang lebih baik serta mewarisikan hal terindah bagi anak cucu kita.



By : Timothy Wibowo

Kekerasan pada anak-Child Bullying




Tahun 2007 masyarakat Indonesia dikejutkan dengan adanya kasus seorang anak kecil, Raju yang berasal dari Langkat, Sumatera, yang menjadi berita karena dihukum di pengadilan untuk kasus intimidasi yang dilakukannya terhadap bocah sebayanya. Selain itu, banyak kasus bunuh diri yang dilakukan anak tingkat Sekolah Dasar ataupun Sekolah Menengah Pertama yang biasanya dilatarbelakangi oleh tidak adanya dana untuk membayar uang SPP. Dan masalah ini dianggap sebagai dampak dari permasalahan ekonomi yang melanda negara kita. Alhasil, penyelesaian dari masalah ini adalah memberikan subsidi dalam hal pendanaan pendidikan. Namun, benarkah ekonomi adalah latar belakang timbulnya permasalahan pada anak-anak kita sehingga memicu terjadinya tindakan bunuh diri bahkan membunuh teman sebaya? Kasus penggencetan dengan kekerasan tidak hanya pada anak tetapi juga pada orang dewasa. Kasus kekerasan pada institut pendidikan yang seharusnya menghasilkan pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab juga terjadi. Karena itu penting diketahui mengenai masalah ini dari masa kanak-kanak agar tidak berlanjut.

Sebagai orang yang bertanggung jawab mengenai perkembangan dan pertumbuhan anak, orang tua dan orang dewasa yang berada sekitar anak-anak ada baiknya mengetahui perubahan apa yang terjadi pada sikap dan perilaku anak sehingga bisa mewaspadai apa yang sedang terjadi pada psikis anak-anak kita. Child Bullying lebih sering timbul pada keadaan dimana terjadi hubungan sosial, misalnya di sekolah dan di tempat-tempat pergaulan anak-anak.
Banyak hal yang perlu diwaspadai, mulai dari apakah anak-anak kita telah memilih teman yang benar? apakah anak diterima dalam lingkungan sosial tempat dia bersekolah? apakah ada kekurangan yang dimiliki oleh anak yang potensial untuk dijadikan korban Bullying? bagaimana kita sebagai orang tua dapat mengetahui anak kita menjadi korban atau bahkan orang pelaku tindakan bullying? Apa yang harus dilakukan sebagai orang tua? Semua tanda tanya diatas akan dijawab melalui highlights edisi ini, yang akan sedikit banyak membuka wawasan kita tentang tindak kekerasan ini atau yang lebih sering kita dengar dengan Child Bullying.

Istilah Bullying atau penggencetan merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku agresif yang melibatkan ketidakseimbangan antara tenaga dan kekuatan. Istilah ini belum tersosialisasi dengan baik. Tidak semua masyarakat yang tahu dan mengerti tentang istilah ini. Untuk masalah penggencetan sendiri dianggap sebagai hal biasa yang dilakukan oleh anak-anak, karena itu merupakan salah satu bagian dalam pergaulan mereka. Dikatakan bahwa bullying merupakan konflik antara anak-anak, merupakan persoalan yang terjadi pada usia anak-anak kecil, merupakan masalah sosial yang sudah menjadi santapan berita-berita yang kita dengar tiap-tiap hari. Dan masih banyak lagi berbagai pemikirian tentang bullying. Untuk mengetahui kekeliruan pemikiran tersebut, dalam artikel Mitos Kelirumologi Bullying akan di ungkap secara terbuka.

Apa yang dimaksud dengan bullying? Secara definisi, bullying merupakan suatu tindakan agresi yang dilakukan dengan menggunakan agresi yang bertujuan untuk menyakiti orang lain secara fisik maupun mental. Beberapa terminologi/istilah lain yang biasanya digunakan adalah Penindasan atau Penggencetan. Tindakan ini tidak hanya mempengaruhi si pelaku dan korban, namun juga dapat mengakibatkan stress pada korban. Menariknya, frekuensi kejadian ini sangat tinggi pada lembaga pendidikan formal yaitu sekolah. Bentuk dari tindakan ini tidak hanya secara langsung secara verbal ataupun fisik, namun dapat berupan bentuk tidak langsung melalui penggunaan media seperti SMS, email, telepon dan berbagai cara lainnya. Apa saja latar belakang timbulnya tindakan penindasan ini? Anak-anak dengan keadaan apakah yang potensial untuk di gencet? Apakah anak-anak kita adalah korban dari tindakan penggencatan, bagaiman mengetahui hal tersebut? Apakah akibat yang ditimbulkan dari penggencetan ini? Untuk mengetahui seluruh jawaban atas pertanyaan diatas, akan dipaparkan secara lengkap dalam artikel Child Bullying.

Anak seringkali tidak menceriterakan pada orang tua mereka bahwa mereka mengalami penggencetan, karena perasaan malu yang dimiliki, risih, takut terhadap ancaman anak yang melakukan penggencetan. Butuh suatu keberanian yang besar bagi seornag anak untuk menceriterakan apa yang dialami olehnya. Sebagai orang tua, akan sangat penting untuk memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan sikap anak. Dan jangan takut untuk mencurigai bahwa salah satu penyebab perubahan sikap ini dikarenakan oleh tindakan penggencatan yang dialami. Apakah yang harus dilakukan bila anak anda digencet? Dukungan dari orang tua secara objektif sangat diperlukan dalam penanganan masalah ini. Jika tindakan tersebut terjadi dalam lingkungan sekolah, alangkah baik jika orang tua dengan bijak membicarakan masalah ini dengan pihak sekolah secara dua arah. Bagaimana peran orang tua dalam menyikapi permasalah ini akan di kupas dalam artikel Child Bullying-Peranan Orang Tua

Kenapa perilaku ini begitu penting? Apa yang akan diakibatkan oleh perilaku ini sehingga setiap orang tua diajak untuk membuka mata mereka agar mengenali apakah anak kita adalah pelaku atau korban dari tindakan ini? Dalam artikel Listen to them; Bullies and Victims ini, akan di berikan beberapa kejadian atau kasus dan testimoni dari anak-anak yang menjadi pelaku dan korban dari tindakan ini.

Menjadi kanak-kanak adalah masa yang menyenangkan..saat bermain, belajar dan mengeksplorasi dunia..
menjadi dewasa adalah masa yang menyenangkan,.bertanggungjawab, menentukan pilihan hidup..
Menjadi orang tua adalah menyenangkan..berbagi, melindungi,membimbing..
Persamaan semuanya adalah apapun masa hidup kita, kita terus belajar,.belajar untuk mengenali dunia, belajar untuk mengenali lingkungan, belajar untuk menghadapi tantangan..

Ketakutan muncul karena ketidaktahuan..
ketidaktahuan sirna dengan pengetahuan..
pengetahuan datang dengan pelajaran..
Mari kita terus belajar..

Oleh : dr Olien

Senin, 10 September 2012

Mengembangkan Pend. Karakter di Sekolah


Pendidikan Karakter perlu dikembangkan di sekolah. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Adapun acuan konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan sebagaimana uraian berikut.
1. Olah Hati (Spiritual and emotional development). Olah hati bermuara pada pengelolaan spiritual dan emosional.
2. Olah Pikir (intellectual development). Olah pikir bermuara pada pengelolaan intelektual.
3. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). Olah raga bermuara pada pengelolaan fisik.
4. Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Olah rasa bermuara pada pengelolaan kreativitas
Pengembangan pendidikan karakter bisa menggunakan kurikulum berkarakter atau “Kurikulum Holistik Berbasis Karakter” (Character-based Integrated Curriculum). Kurikulum ini merupakan kurikulum terpadu yang menyentuh semua aspek kebutuhan anak. Sebuah kurikulum yang terkait, tidak terkotak-kotak dan dapat merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual.
Bidang-bidang pengembangan yang ada di TK dan mata pelajaran yang ada di SD yang dikembangkan dalam konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal dan sosial, pengembangan berpikir/kognitif, pengembangan karakter dan pengembangan persepsi motorik juga dapat tersusun dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran yang terpadu dan menyeluruh (Holistik). Pembelajaran holistik terjadi apabila kurikulum dapat menampilkan tema yang mendorong terjadinya eksplorasi atau kejadian-kejadian secara autentik dan alamiah. Dengan munculnya tema atau kejadian yang alami ini akan terjadi suatu proses pembelajaran yang bermakna dan materi yang dirancang akan saling terkait dengan berbagai bidang pengembangan yang ada dalam kurikulum.
Pembelajaran holistik berlandaskan pada pendekatan inquiry, dimana anak dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi dan berbagi gagasan. Anak-anak didorong untuk berkolaborasi bersama teman-temannya dan belajar dengan “cara” mereka sendiri. Anak-anak diberdayakan sebagai si pembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang. Sebuah pembelajaran yang holistik hanya dapat dilakukan dengan baik apabila pembelajaran yang akan dilakukan alami, natural, nyata, dekat dengan diri anak, dan guru-guru yang melaksanakannya memiliki pemahaman konsep pembelajaran terpadu dengan baik. Selain itu juga dibutuhkan kreativitas dan bahan-bahan atau sumber yang kaya serta pengalaman guru dalam berlatih membuat model-model yang tematis juga sangat menentukan kebermaknaan pembelajaran.
Tujuan model pendidikan holistik berbasis karakter adalah membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal. Selain itu untuk membentuk manusia yang lifelong learners (pembelajar sejati) bisa dilakukan dengan beberapa langkah sebagaimana uraian berikut.
1) Menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid, yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang konkrit, bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active learning, contextual learning, inquiry-based learning, integrated learning).
2) Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (conducive learning community) sehingga anak dapat belajar dengan efektif di dalam suasana yang memberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan semangat.
3) Memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good.
4) Metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-masing anak, yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan juga 9 aspek kecerdasan manusia.
5) Seluruh pendekatan di atas menerapkan prinsip-prinsip.

Sumber: